Jumat, 26 Agustus 2016

Annyeong Holiday


Tiga bulan telah berlalu, tepat 1 September 2016  nanti perkuliahan semester ganjil tahun ajaran 2016/2017 dimulai. Yah cepet banget yak, nggak berasa banget udah hampir tiga bulan aja. Perasaan baru kemarin libur (gilak, kalendernya gak jalan kalo 3 bulan yang lalu itu baru terjadi kemarin - -“) . 

Itulah kenapa ada persamaan “Uang dan Liburan itu nggak ada bedanya, Sama-sama cepet habis”.
Sebenernya tiga bulan itu bukanlah waktu yang singkat, dimana dalam waktu tiga bulan bisa kita pergunakan untuk hal-hal yang belum sempat kita lakuin pas lagi sibuk kuliah. Problem yang sering terjadi pada mahasiswa adalah kurang tidur, jadi pada kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk tidur sepuasnya.  Misalnya kita bisa hibernasi selama tiga bulan, bangun-bangun Indonesia udah pindah ke Mars.

Selain itu adalah liburan, yap liburan itu penting. Bahkan setelah liburan tiga bulan ini belum berakhir aku udah nyusun rencana liburan semester depan hahaa.

Libur semester genap tahun ini cukup melewati banyak tanggal-tanggal penting. Dimulai dengan bulan juni, dimana pada bulan ini orang-orang sedang sibuk mempersiapkan mudik lebaran. Begitu pun dengan aku, sebagai anak rantau mudik itu bertengger pada urutan nomor dua hal yang paling dinanti setelah urutan nomor satu direbut oleh “makan gratis”. Dan seperti tahun-tahu sebelumnya, setiap bulan puasa datang, adzan magrib sukses menjadi acara yang paling ditunggu dan punya rating paling tinggi di TV manapun.

Lanjut bulan Juli, nah dibulan inilah bulan yang paling panjang menurut ku. Bulan ini terasa panjang. Awal bulan ini aku sampai dirumah tercinta di kampung halaman. Seperti biasa juga, anak rantau kalau pulang ke rumah itu tiba-tiba di sayang emak. Pas kita dirumah mau ngapain aja nggak bakal di marah, misalnya bangun siang, dulu pas sebelum merantau aku sebagai anak gadis satu-satunya di keluarga bangun siang pasti nyonya besar bakal meledak kaya bom Hirosima. Tapi… setelah jarang pulang, sekalinya pulang mau bangun siang, sore, malem atau bahkan nggak bangun sama sekali nyonya besar tetap kalem-kalem aja hahaa. Enaknya… coba dulu pas masih sekolah diginiin juga, bisa hancur Negara ini. Nah keuntungan sebagai anak rantau yang pulang kampung selanjutnya adalah makan disiapin. Pas baru-baru pulang kerumah hari pertama, kedua, sampai paling lama seminggu lah disayang-sayang emak, makan disipain bangun jam berapa aja dibiarin, tapi setelah seminggu balik lagi deh marah-marahnya -_-. But that’s what I miss from my lovely mom so much, itulah yang paling dikangenin dari orang tua. Itulah cara mereka memperhatikan kita, marah-marahnya yang khas, cara mereka mengingatkan kita kalo kita salah, kalau diperantauan siapa yang bakal peduli kita ngapain aja, Our parents are the best.

Nah dibulan Juli setelah lebaran ternyata adalah ulang tahun ku. Yah makin tua deh. Temen-temen dan para sahabat tercinta ngasih early surprise, kejutan diawal. Karena katanya pas hari H-nya kita udah balik ke perantauan lagi. Okedeh terimakasih broNsist you are the best also. Di akhir bulan Juli liburan di kampung udah selesai saatnya balik lagi ke pulau seribu pura ini. Libur panjang belum berakhir, walaupun kerja tetep jalan tapi kuliah masih libur. Jadinya paginya nganggur, sorenya kerja. Jadi apa daya rasa malas mengalahkan segalanya.

Masuk bulan agustus bendera merah putih mulai berkibar dimana-mana, bahkan para pedagang bendera dadakan mulai standby ditempat tak terduga. Rasanya rindu masa-masa sekolah kalau inget agustusan gini. Bisa upacara, ikut lomba tapi kalo udah gede gini cuman bisa berdoa untuk Negara tercinta. Tibalah tanggal 17 agustus dimana semua orang sibuk mempersiapkan upacara bendera. Den seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu nonton upacara bendera di Istana Negara lewat layar kaca, ini wajib rasanya nggak afdol kalo ketinggalan. Dan hebatnya lagi tepat sebelum tanggal 17 agustus 2016 berakhir yakni di jam 11.58 WIB nasionalisme rakyat seluruh Indonesia mendadak menjadi luar biasa tinggi. Mereka semua mendapat kado indah kemerdekaan RI71yakni medali emas olimpiade Rio. 

Pasangan XD (ganda campuran) Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dari cabor badminton berhasil menjadi juara setelah mengalahkan pasangan tetangga sebelah, Malaysia (Hai, aku juga BL loh :D jadi maklum kalo aku bela-belain nonton live final ini sampe jam setengah 2 pagi waktu sini). Dan dibalik hingar bingar kemenangan ini aku salut sekali sama bang Tontowi alias bang owi, kunci sukses dia adalah al-quran. Kemanapun dia pergi, bagaimanapun situasinya sebelum bertanding dia selalu menyempatkan diri untuk selalu membaca ayat-ayat suci al-quran. Wah andai Indonesia punya banyak atlet kaya gini bakal makin bangga.  Sepertinya Indonesia benar-benar diberkahi tahun ini.

Selama libur panjang ini juga aku berhasil menghabiskan beberapa judul drama korea, film dan variety show yang sempat tersimpan di laptop berbulan-bulan. When drama more than a drama… jadi aku belajar banyak selama aku nonton drama. Nggak penting sih cuman alurnya drama itu menjadi penting ketika kamu itu kpop addict.

Nah begitulah kira-kira libur panjang tiga bulan ku berjalan, sekarang sudah memasuki akhir bulan agustus. Lama nggak ke kampus, bisa jadi aku lupa jalan ke kampus :D. welcome back to kampus kuning.. eh ada maba yang masih polos pasti hari pertama kuliah, kampus bakalan penuh dan banyak muka-muka bingung dan salah kelas bwahahaa..

Senin, 25 Juli 2016

Aku dan Cerita Mudik ku





Hai… hai…

Lama nggak nulis di blog nih, untung blog kesayangan ku ini nggak karatan, jamuran atau banyak sarang laba-labanya. Setelah lama nggak nulis absurd, rasanya jadi aneh memulai nulis lagi. Tapi nggak apa.. aku akan berusaha demi seseorang yang udah request dan katanya  pengen baca tulisan ku lagi hehe.

Pada kesempatan kali ini, aku mau cerita soal pengalaman mudik ku kemarin. Aku mudik loh ke kampung halaman. Ini pertama kalinya aku mudik mendekati hari H lebaran..

Mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang meninggalkan kampunng halaman dan punya lingkungan baru entah itu di kota atau malah di pedalaman. Mudik merupakan momen yang selalu ditunggu setiap tahun karena baik keseruan perjalannannya maupun berita empuk yang sudah ditunggu-tunggu para wartawan. Tapi inget, bagi kalian yang mau mudik pastikan kalian punya kampung halaman ya…

30 Juni 2016, aku memulai perjalanan panjang ku menuju kampung halaman. Setelah melalui perhitungan panjang sebelum mudik, aku sudah menyusun jadwal dan rencana yang matang bagaimana aku mudik dan apa resiko yang harus aku dapatkan saat mudik. Rencana aku mudik nggak terlalu lama sekitar dua mingguan. Berbeda dengan tahun lalu, aku mudik selama tiga bulan (buseet dah ini mudik atau apa). Libur lebaran tahun ini bertepatan dengan libur perkuliahan semester genap. Jadi… lamaaaa banget liburnya kurang lebih tiga bulan. Lumayan buat menggembungkan badan. Tapi tapi oh tapi… libur kuliah bukan berarti libur kerja juga. Jadwal mengajar di tempat bimbel masih berjalan seperti biasa dan celakanya cuti ku tinggal 5 hari doang sedangkan aku mesti pulang kampung beminggu-minggu duh sedih banget. Baiklah aku harus ambil keputusan, aku harus pulang lama dan aku ikhlaskan gaji ku dipotong banyak (ditempat kerja ku libur melebihi cuti libur gaji dipotong sebanyak berapa jam kalian melewatkan kelas). Omegat jahat banget ya tempat kerja ini. Okelah perjudian antara uang dan quality time with family sudah aku putuskan aku akan pulang tanpa memikiran gaji biarlah gaji ku habis di makan waktu anggap saja sedekah.

Akhirnya dengan perasaan senang luar biasa, aku pulang sore itu. Aku seneng banget bisa pulang setelah lamaaa banget nggak ketemu emaakk. Saat mendekati lebaran, jarak Bali-Bojonegoro itu nggak sama kayak jarak Bojonegoro-Bali loh. Aneh kan? Aku pulang H-5 lebaran. Gilaakk udah nggak kebayang macetnya. Padahal waktu keberangkatan bus udah dimajuin 2 jam lebih awal dari biasanya. For your information, aku udah pesan tiket mudik di awal puasa loh. Keren banget kan aku udah kaya orang mau mudik beneran. Hari itu nggak berjalan dengan mudah, dari pagi aku mesti ke kampus nyelesaiin beberapa berkas yang mesti udah beres sebelum aku tinggal pulang ke Jawa. Aku pikir urusan ini bakal cepet selesai 1 sampai 2 jam. Ternyata tidak! Buat minta ttd pembantu dekan 3 aja aku mesti duduk berjam-jam dari jam 8 sampai jam 2. Gilaakkk aku sempat frustasi. Bus berangkat jam 3, sedangkan jam 2 aku baru balik dari kampus. Aku belum packing barang-barang yang mau aku bawa pulang dan jarak dari kampus ke kontrakan sekitar 20 menit. Haaaaa emaakk tolong anak mu iniiii….. setelah PD 3 datang aku segera menyelesaikan LPJ dan dengan secepat kilat aku melesat melewati jalanan Denpasar yang nggak terlalu macet siang itu karena udah pada ditinggal mudik jadi jalanan udah agak sepi. Setelah sampai kontrakan aku segera packing. Aku masukkan segala macam benda yang bisa aku masukkan ke dalam tas. Dan mudik kalian nggak afdol kalo kalian nggak bawa kardus. Ya, kardus merupakan barang bawaan wajib para pemudik entah itu ada isinya apa enggak. Jam 3 tepat aku sampe diterminal, siang itu terminal rame banget penuh. Banyak stasiun TV melakukan live report mudik. Aku maunya dadadada di tv tapi apasih untung akal sehat ku segera kembali. Aku sudah lega sudah duduk manis di dalam bus. Bus siap berangkat. Belum aja bus jalan rasanya aku udah mau muntah mabuk darat. Aku mencoba bertahan. Awalnya bus berjalan dengan normal setelah mendekati pintu masuk pelabuhan Gilimanuk BAAM!!! Bencana datang. Terjadi kemacetan kurang lebih selama 8 jam hanya buat mau masuk ke pelabuhan doang. Alamakkk rasanya aku mau mati beku di dalem bus, mana bis ACnya rusak ACnya jebol dinginnya naudzubillah ditambah hujan malem-malem diluar. Kelar sudah hidup ku, aku pikir hidup ku akan berakhir di bulan Juni eh ternyata aku masih hidup sampai bulan Juli, setelah masuk ke kapal rasanya legaaaaa aku bisa bernapas lagi. Aku tersadar dari kejadian ini macet 8 jam aja rasanya kaya waktu berhenti lalu aku dibekukan pas bangun tiba-tiba Bojonegoro udah pindah ke Sulawesi selatan. Gimana ya yang kena macet di Tol Brexit selama 24 jam ya, pantes aja sampe ada korban jiwa. Ya sudahlah semoga hal ini nggak terulang lagi di tahun depan. Perjalanan Denpasar-Bojonegoro yang seharusnya di tempuh 13 jam sekarang menjadi 22 jam dan pas balik Bojonegoro-Bali cuman 13 jam itulah kenapa aku bilang jarak Denpasar-Bojonegoro lebih jauh dari jarak Bojonegoro-Denpasar. Bus berhenti sebentar buat istirahat makan (entah itu makan pagi atau malam udah gak jelas waktunya gara-gara macet tadi) di tempat makan sekitaran Situbondo, aku nggak ikut makan karena aku bertekad untuk tetap berpuasa pagi itu. Orang-orang yang makan bilang itu makan sahur, sahur kok jam 6 to pak. Perjalanan dilanjutkan tinggal bentar lagi sampai. Pas udah sampai dan turun dari bis, aku berasa lahir kembali. Aku tersadar, Bisa menghirup oksigen merupakan nikmat luar biasa yang Allah SWT berikan kepada kita. Perjalanan mudik ku tinggal selangkah lagi, sebentar lagi aku ketemu emak bapak. Aku mesti naik bus lagi yang berbeda buat sampai rumah ku yang sesungguhnya. Akhirnya aku sampai di kampung halaman. Aku banggaa.. aku senaaangg… aku riaanggg.. dan….. aku makan! Puasa batal tak tahan godaan.

Inilah cerita perjalanan mudik ku libur lebaran tahun ini. Aku tau nggak ada yang menarik tapi dunia harus tau aku mudik. SEKIAN